Minggu, 23 Maret 2014

Contoh wacana Prolog (lisan) dan Ekspositori (tulisan)


Wacana Prolog
            Suasana sedih menghiasi keluargaku, ketika aku mau berangkat ke Bengkulu Tahun 2011 yang lalu. Ibuku sangat sedih, sepertinya dia tidak mau berpisah dengan anak sulungnya. Ayahku hanya diam sambil membereskan koper kecilku.
Ibu           : “Nak, hati-hati di jalan, yah”. Semoga tiba dengan selamat di tempat tujuan.
                   (Sambil mengeluarkan air mata).
Yohanes   : “Terima kasih, Bu”. “Ibu jangan nangis, Yohanes akan baik-baik saja”.                           (mengusap air mata Ibu)
Ayah        : “Kalau sudah sampe di sana, kabari Ayah dan Ibu”.
                   “Jangan lupa pesan Ayah tadi, di tanah orang harus baik-baik.”
                   “Selalu berdoa dan rajin ke Gereja”. (memegang pundakku)
Yohanes   : “Iya, Yah”. “Saya akan selalu ingat pesan Ayah dan Ibu”. “Ayah dan Ibu juga doa       buat saya, semoga selalu sehat dan lancar dalam kuliah”.
Ibu           : “Doa kami, selalu menyertaimu, Anakku”.
Adik        : “Kaka, kalo pulang jangan lupa beli tas buat adik, yah”. (memeluk aku)
Yohanes   : “Hehehee... Iya dikku yang cantik, Kaka tidak lupa beli tas buat Adik”.
                   “Yang penting Adik rajin belajar dan selalu membantu Ayah dan Ibu”.
(Terdengar klakson mobil yang menjemputku untuk berangkat)
Yohanes   : “Yah... Bu... Yohanes pamit, mobil sudah jemput”. (menyalami Ayah dan Ibu)
Ayah        : “Hati-hati, Nak”.
Ibu           : “Hati-hati yah, Nak”. (kulihat Ibu menangis,dan menggenggam sebuah Rosario)           “Jangan lupa ini dipake”. (Ibu mengalungkan Rosario tersebut di leherku).
Yohanes   : “Terima kasih, Bu”.
(Perlahan kumelangkah sambil menarik koper kecilku dan melambaikan tangan, meninggalkan Ayah,  Ibu, adikku dan rumahku).

Wacana Ekspositori
            Wacana ekspositori ialah memaparkan, memberitahukan, atau menjelaskan secara informal, apa adanya, tidak memaksa pembaca untuk menerima atau menolak isi paparan. Oleh karena itu, wacana ini cendrung disajikan dengan bahasa denotatif dan rasional. Tujuannya ialah untuk menambah pengetahuan pembaca, bukan untuk menimbulkan imajinasi.
Contoh:
            Motang Rua adalah pelopor perjuangan rakyat Manggarai untuk melawan Belanda. Belanda berhasil diruntuhkan oleh rakyat Manggarai di bawah pimpinan Motang Rua. Penjajahan Belanda yang menimbulkan penderitaan bagi rakyat, membuat Motang Rua berani untuk melawan penjajah meskipun nyawa taruhannya. Penaklukannya terhadap  Belanda yang menjajah di daerah Manggarai membawa dampak yang positif bagi rakyat Manggarai. Mereka bisa hidup aman dan nyaman, tetapi keadaan itu tak berlangsung lama. Belanda menggunakan strategi, pura-pura mengajak Motang Rua untuk berdiskusi dengan mereka. Bahwa mereka tidak akan menjajah rakyat Manggarai, jika Motang Rua bisa bekerja sama dengan mereka. Motang Rua tidak menerima tawaran itu. Dia lebih memilih mati untuk rakyat Manggarai daripada harus bekerja sama dengan Belanda. Karena kepicikan dan tawarannya ditolak, tentara Belanda mengasingkan Motang Rua ke Jakarta, setelah itu dibuang ke Aceh. Kondisi fisik Motang Rua yang semakin melemah dan sakit-sakitan, akhirnya dia mengakhiri hidupnya di Aceh. Semangat kepahlawannya tidak pernah dilupakan rakyat Manggarai dan seluruh rakyat NTT. Untuk mengenang jasa-jasa beliau, maka salah satu jalan di kota Ruteng Kabupaten Manggarai diberi nama Jalan Motang Rua. Dan lapangan sepak bola yang letaknya berada di  jantung kota Ruteng namanya lapangan Motang Rua.

Motang Rua adalah pahlawan daerah Manggarai, Provinsi Nusa Tenggara Timur.


Sejarah bahasa Melayu diangkat menjadi bahasa Indonesia dan Fungsi bahasa Indonesia sebagai bahasa Nasional dan Negara


        A.        Sejarah bahasa Melayu diangkat menjadi bahasa Indonesia
            Bahasa kita yang dinamai bahasa Indonesia, berasal dari bahasa Melayu, yaitu salah satu bahasa daerah di bumi nusantara ini. Bahasa Indonesia, digunakan sebagai salah satu bahasa alat yang mempersatukan bangsa yang bersuku-suku, untuk mengusir penjajah Belanda dan meraih kemerdekaan. Selanjutnya, bahasa ini digunakan dalam berbagai kehidupan secara luas, maka tidak ada yang memprotes ketika bahasa Melayu dinobatkan menjadi bahasa Indonesia.
            Bahasa Melayu mulai dipakai di kawasan Asia Tenggara sejak abad ke-7. bukti-bukti yang menyatakan itu ialah dengan ditemukannya prasasti di Kedukan Bukit berangka tahun 683 M (Palembang), Talang Tuwo berangka tahun 684 M (Palembang), Kota Kapur berangka 686 M (Bangka Barat), Karang Brahi berangka tahun 688 M (Jambi). Prasasti-prasasti itu bertuliskan huruf Pranagari berbahasa Melayu Kuna. Bahasa Melayu Kuna itu tidak hanya dipakai pada zaman Sriwijaya saja karena di Jawa Tengah (Gandasuli) juga ditemukan prasasti berangka tahun 683 M dan di Bogor ditemukan prasasti berangka 942 M yang juga menggunakan bahasa Melayu Kuna.
            Pada zaman Sriwijaya, bahasa Melayu dipakai sebagai bahasa kebudayaan, yaitu bahasa buku pelajaran agama Budha. Bahasa Melayu dipakai sebagai bahasa perhubungan antarsuku di Nusantara. Bahasa Melayu dipakai sebagai bahasa perdagangan, baik sebagai bahasa antarsuku di Nusantara maupun sebagai bahasa yang digunakan terhadap para pedagang yang datang dari luar Nusantara.
            Perkembangan dan pertumbuhan bahasa Melayu tampak makin jelas dari peninggalan-peninggalan kerajaan Islam, baik yang berupa batu bertulis, seperti tulisan pada batu nisan di Minye Tujoh, Aceh, berangka 1380 M, maupun hasil-hasil susastra (abad ke-16 dan ke-17), seperti Syair Hamzah Fansuri, Hikayat Raja-Raja Pasai, Sejarah Melayu, Tajussalatin, dan Bustanussalatin.
            Bahasa Melayu yang dipakai di daerah-daerah di wilayah Nusantara dalam pertumbuhannya dipengaruhi oleh corak budaya daerah. Bahasa Melayu menyerap kosakata dari berbagai bahasa, terutama dari bahasa Sanskerta, bahasa Persia, bahasa Arab, dan bahasa-bahasa Eropa. Bahasa Melayu pun dalam perkembangannya muncul dalam berbagai variasi dan dialek.
            Perkembangan bahasa Melayu di wilayah Nusantara mempengaruhi dan mendorong tumbuhnya rasa persaudaraan dan persatuan bangsa Indonesia. Komunikasi antarperkumpulan yang bangkit pada masa itu menggunakan bahasa Melayu. Para pemuda Indonesia yang tergabung dalam perkumpulan pergerakan secara sadar mengangkat bahasa Melayu menjadi bahasa Indonesia, yang menjadi bahasa persatuan untuk seluruh bangsa Indonesia (Sumpah Pemuda, 28 Oktober 1928). Kebangkitan nasional telah mendorong perkembangan bahasa Indonesia dengan pesat. Peranan kegiatan politik, perdagangan, persuratkabaran, dan majalah sangat besar dalam memodernkan bahasa Indonesia. Proklamasi Kemerdekaan Republik Indonesia, 17 Agustus 1945, telah mengukuhkan kedudukan dan fungsi bahasa Indonesia secara konstitusional sebagai bahasa negara.

            Apakah sebenarnya Bahasa Indonesia (Minto Rahayu, 2007:8)?
1.      Prof. Dr. A. Teew (Sarjana Belanda)
Bahasa Indonesia ialah bahasa perhubungan yang berabad-abad tumbuh dengan perlahan-lahan di kalangan penduduk Asia Selatan dan setelah bangkitnya pergerakan rakyat Indonesia pada abad XX dengan insyaf diangkat dan dimufakati serta dijunjung sebagai bahasa persatuan.
2.      Amin Singgih
Bahasa Indonesia ialah bahasa yang dibuat, dimufakati, dan diakui serta digunakan oleh masyarakat seluruh Indonesia sehingga sama sekali bebas dari unsur-unsur bahasa daerah yang belum umum dari bahasa kesatuan kita. Dengan kata lain, bahasa Indonesia ialah bahasa Melayu yang sudah menyatu benar dengan bahasa suku-suku bangsa yang ada di kepulauan nusantara. Adapun bahasa daerah yang disumbangkan, betul-betul telah menyatu dan tidak lagi terasa sebagai bahasa daerah.
3.      Prof. Dr. R. M. Ng. Purbatjaraka
Bahasa Indonesia ialah bahasa yang sejak kejayaan Sriwijaya telah menjadi bahasa pergaulan atau lingua franca di seluruh Asia Tenggara.
           
            Jadi, Bahasa Indonesia tak lain adalah bahasa Melayu yang telah menyatu dengan bahasa daerah dan bahasa asing yang berkembang di Indonesia. Mengapa Bahasa Melayu dijadikan bahasa Indonesia? Pemilihan bahasa Melayu menjadi bahasa Indonesia didasarkan atas pertimbangan yang rasional, baik secara politik, ekonomi, dan kebahasaan, yaitu:
1.      Bahasa Melayu telah tersebar luas di seluruh wilayah Indonesia.
2.      Bahasa Melayu diterima oleh semua suku di Indonesia, karena telah dikenal dan digunakan sebagai bahasa pergaulan, tidak lagi dirasakan sebagai bahasa asing.
3.      Bahasa Melayu bersifat demokratis; maksudnya tidak membeda-bedakan tingkatan dalam pemakaian sehingga meniadakan sifat feodal dan memudahkan orang memperlajarinya.
4.      Bahasa Melayu bersifat reseptif; artinya mudah menerima masukan dari bahasa daerah lain dan bahasa asing sehingga mempercepat perkembangan bahasa Indonesia di masa mendatang.

         B.        Fungsi bahasa Indonesia sebagai bahasa Nasional
            Dua momen penting keberadaan bahasa Indonesia adalah Sumpah Pemuda dan Undang-Undang Dasar 1945. Dengan Sumpah Pemuda, menempatkan bahasa Indonesia sebagai bahasa nasional berfungsi:
1.      Lambang Kebanggaan Nasional
Bahasa Indonesia mencerminkan nilai-nilai sosial budaya yang mendasari rasa kebangsaan. Melalui bahasa Indonesia bangsa Indonesia menyatakan harga diri dan nilai-nilai budaya yang dijadikan pegangan hidup.
2.      Lambang Identitas Nasional
Derajat bahasa Indonesia sama dengan bendera Negara Indonesia. Di dalam melaksanakan fungsinya, bahasa Indonesia harus memiliki ciri khas sehingga serasi dengan lambing-lambang kebangsaan yang lain. Hal tersebut menuntutu masyarakat pemilik dan pemakaiannya untuk membina dan mengembangkan sedemikian rupa sehingga bersih dari unsur-unsur lain, baik daerah maupun asing yang tidak perlu benar.
3.      Alat Pemersatu Bangsa
Sebagai alat pemersatu bahasa, bahasa Indonesia memungkinkan berbagai suku bangsa yang ada di Indonesia ini untuk mendapat keserasian hidup sebagai bangsa yang bersatu dengan tidak perlu meninggalkan identitas kesukuan dan kesetiaan kepada nilai-nilai sosial budaya serta latar belakang bahasa daerah yang bersangkut dengan bahasa nasional, bahkan dapat meletakkan kepentingan nasional diatas kepentingan daerah atau golongan.


4.      Alat Penghubung Antardaerah dan Antarbudaya
Sebagai alat penghubung antar daerah dan antar budaya, bahasa Indonesia telah menunjukkan kemampuannya sejak berabad-abad yang lalu, semenjak bahasa tersebut bernama bahasa Melayu dengan bahasa Indonesia. Juga dapat mengadakan tali marga atau komunikasi dengan suku-suku bangsa yang menghuni kawasan Indonesia. Bahasa Indonesia mampu menghubungkan jarak antara suku dengan suku lama, baik yang disebabkan oleh factor geografi maupun latakang social budaya dan bahasa daerah yang berbeda-beda.

        C.        Fungsi bahasa Indonesia sebagai bahasa Negara
Selain fungsinya sebagai bahasa Nasional, bahasa Indonesia dalam UUD 1945 juga menyatakan dirinya sebagai sebagai bahasa negara; yang mempunyai fungsi:
1.      Bahasa Resmi Negara
Di dalam hubungannya dengan fungsi ini, bahasa Indonesia dipakai dalam segala upacara, peristiwa, dan kegiatan kenegaraan baik secara lisan maupun tulis. Dokumen-dokumen dan keputusan-keputusan serta surat-surat yang dikeluarkan oleh badan-badan kenegaraan lainnya, ditulis dalam bahasa Indonesia. Pidato kenegaraan dan penjelasan-penjelasan pemerintah kepada masyarakat di sampaikan dalam bahasa Indonesia.
2.      Bahasa Pengantar dalam Pendidikan
Telah dibuktikan bahwa sejak bangsa Indonesia diproklamasikan sebagai negara (17 Agustus 2013), bahasa Indonesia telah digunakan sebagai pengantar dalam dunia pendidikan menggantikan bahasa Belanda, kecuali TK dan tiga tahun SD, penggunaan bahasa daerah belum sama sekali dapat dihilangkan mengingat bahasa Indonesia masih dianggap sebagai kedua. Namun perkembangan membuktikan bahasa Indonesia semakin banyak digunakan sebagai bahasa pengantar pendidikan dari semua jenjang dan jalur pendidikan.
3.      Alat Penghubung Pada Tingkat Nasional
Di dalam hubungan dengan fungsi, bahasa Indonesia bukan saja sebagai alat tali marga antar daerah dan suku, melainkan juga sebagai alat tali marga didalam masyarakat yang sama latar belakang social budaya dan bahasa.



4.      Alat Pengembang Kebudayaan
Ilmu pengetahuan dan teknologi penyebaran Ilmu dan teknologi baik melalui penulisan maupun penerjemahan buku-buku teks serta penyajiannya di lembaga-lembaga pendidikan maupun melalui penulisan buku-buku untuk masyarakat umum dan melalui sarana-sarana lain di luar lembaga-lembaga pendidikan dilaksanakan dengan menggunakan bahasa Indonesia.































        A.        Simpulan
            Mengapa Bahasa Melayu dijadikan bahasa Indonesia? Pemilihan bahasa Melayu menjadi bahasa Indonesia didasarkan atas pertimbangan yang rasional, baik secara politik, ekonomi, dan kebahasaan, yaitu:
1.      Bahasa Melayu telah tersebar luas di seluruh wilayah Indonesia.
2.      Bahasa Melayu diterima oleh semua suku di Indonesia, karena telah dikenal dan digunakan sebagai bahasa pergaulan, tidak lagi dirasakan sebagai bahasa asing.
3.      Bahasa Melayu bersifat demokratis; maksudnya tidak membeda-bedakan tingkatan dalam pemakaian sehingga meniadakan sifat feodal dan memudahkan orang memperlajarinya.
4.      Bahasa Melayu bersifat reseptif; artinya mudah menerima masukan dari bahasa daerah lain dan bahasa asing sehingga mempercepat perkembangan bahasa Indonesia di masa mendatang.
Kedudukan Bahasa Indonesia sebagai bahasa Nasional, yaitu:
1.      Lambang kebanggaan nasional;
2.      Lambang identitas nasional;
3.      Alat perhubungan antarwarga, antardaerah, dan antarbudaya; dan
4.      Alat yang memungkinkan penyatuan berbagai suku bangsa dengan latar belakang sosial budaya dan bahasa yang berbeda.
Kedudukan Bahasa Indonesia sebagai bahasa Negara, yaitu:
1.      Bahasa resmi kenegaraan;
2.      Bahasa  pengantar di dunia pendidikan;
3.      Alat perhubungan pada tingkat nasional untuk kepentingan perencanaan dan pelaksanaan pembangunan; dan
4.      Alat pengembangan kebudayaan dan IPTEK.

         B.        Saran
Sebagai generasi penerus dan perubahan, kita harus bangga dengan bahasa Indonesia dan dapat memakai bahasa Indonesia dengan baik dan benar.

DAFTAR PUSTAKA


            Rahayu, Minto. 2007. Bahasa Indonesia di Perguruan Tinggi. Bandung: Grasindo
            http://kristalonsinaga.blogspot.com/ diakses 06 Maret 2014
            http://id.wikipedia.org/wiki/Bahasa_Indonesia diakses 06 Maret 2014


Contoh puisi untuk anak SD, Judulnya Rindu Hati

RINDU HATI

Rindu hati... oh.... Rindu Hati
Indah mempesona, sawah berpetak-petak
Nan elok dikelilingi buki-bukit
Desa yang hijau, tenang, dan aman
Udaranya sejuk menusuk hati

Hasrat kuingin kembali ke sana
Aku akan menoreh kisah ini
Takkan pernah kulupakan
Indahnya Rindu Hati



Yones Sangkang

Contoh karangan kehidupan di desa, yang berjudul desaku yang dingin dan sejuk

Desaku yang Dingin dan Sejuk

            Saya tinggal di sebuah desa, namaya desa Wudi. Desa Wudi adalah salah satu dari 27 desa di Kecamatan Cibal, Kabupaten Manggarai, Provinsi Nusa Tenggara Timur (NTT). Jarak tempuh dari desaku ke kota kecamatan 15 menit dengan kendaraan bermotor. Sedangkan, ke kota kabupaten ditempuh 30 menit. Desaku sangat dingin dan sejuk.  Pagi, sore dan malam hari udara terasa dingin sedangkan siang hari udaranya panas. Desaku berada di atas bukit, bagian utara terdapat hutan lindung yang masih hijau. Hamparan sawah yang berada di tengah desa menjadi pemandangan yang indah. Sumber mata air yang banyak, sehingga masyarakat tidak kekurangan air bersih.
            Sawah tidak begitu banyak, tetapi hasil perkebunannya bermacam-macam, seperti: kopi, cengkeh, kakao, vanili, kemiri, dan merica. Tiap hari masyarakat ke kebun untuk merawat tanamannya. Dalam membersihkan kebun, orang Manggarai menerapkan istilah do do dalam bahasa Indonesia, membersihkan kebun secara bergiliran, misalnya: hari ini di kebun si A, besok di kebun si B, dan seterusnya. Masyarakat biasanya memanen hasil perkebunannya satu kali dalam setahun, kecuali kakao bisa satu kali seminggu. Yang menjadi dampak buruk bagi masyarakat, jika gagal panen dalam setahun atau dua tahun. Masyarakat harus meminjam uang atau berutang untuk memenuhi kebutuhannya.
            Pekerjaan masyarakat 85% sebagai petani, 10% buruh dan pedagang, dan 5% guru dan pegawai. Desaku boleh dikatakan lumayan maju karena fasilitasnya sudah mencukupi. Jalan raya, Perusahaan Listrik Negara (PLN), Puskesmas Pembantu (Pustu), sekolah, dan tempat ibadah. Jalan raya dari desa ke kota sudah bagus, baik ke kota kecamatan maupun ke kota kabupaten, sehingga memudahkan transportasi untuk masuk ke desa. Dan masyarakat lebih mudah menjual hasil perkebunannya dan belanja untuk kebutuhan sehari-hari. Di Desaku mempunyai satu Sekolah Dasar yaitu Sekolah Dasar Katolik (SDK) Wudi dan satu Sekolah Menengah Pertama yaitu Sekolah Menengah Pertama (SMP) Negeri 7 Cibal. Sejak berdirinya SMP ini 5 tahun yang lalu banyak siswa yang melanjutkan sekolah ke SMA. Karena sebelumnya mereka hanya tamat SD setelah itu membantu orangtua untuk bekerja di kebun maupun merantau.   
            Desaku termasuk kampung bersejarah, memiliki beberapa tempat bersejarah peninggalan nenek moyang kami dulu, seperti: Watu Dari, Wae Lanur, dan Leke Ndereng. Nenek moyang kami dulu namanya Lanur dan istrinya Timung Te’e. Watu Dari adalah tempat tinggal Lanur dan Timung Te’e. Dikatakan Watu Dari karena watu dari artinya batu tempat untuk berjemur, jika matahari terbit batu inilah yang terkena pertama sinar matahari pagi. Kebiasaan masyarakat berjemur, karena udara pagi sangat dingin di desaku. Wae Lanur adalah tempat mandi dan cucinya Lanur dan Timung Te’e. Dan Leke Ndereng adalah tempat keramas rambutnya Timung Te’e. Sekarang, tempat-tempat tersebut sebagai obyek wisata.          
            Kebiasaan masyarakat yang ramah menerima orang baru atau tamu. Tamu adalah orang paling istimewa. Kebudayaan kami, tamu dianggap orang yang paling dihormati dan dihargai. Misalnya: ketika ada tamu, baru makan daging atau ikan. Meskipun harus berutang untuk membeli daging atau pun ikan. Ketika ada tamu, baru minum teh, biasanya hanya minum kopi pahit. Istilah orangtua zaman dulu adalah bom tombo’s cokol, bom tura’s tuda artinya utang piutang tidak diperhitungkan, yang penting tamu tersebut dijamu dengan baik.        
            Kehidupan masyarakat Wudi sangat rukun dan harmonis tanpa memandang suku dan status sosial. Pada tahun 2006 mendapat pengahargaan dari Bupati Manggarai, Drs. Christian Rotok sebagai “Desa Sadar Hukum”. Karena tindakan kriminal tidak pernah terjadi di desa Wudi.

            Itulah gambaran singkat, desaku. Aku lahir dan dibesarkan di sini. Hingga aku bisa seperti sekarang ini. Nantikan kedatanganku desaku...

Contoh wacana dari fungsi bahasa

TUGAS IV

Nama: Yohanes Sangkang
NPM: A1G011121
Tugas: Analisis Wacana

Contoh wacana dari fungsi bahasa.
1.      Fungsi personal atau pribadi atau emotif

IPK yang semakin turun membuatku kecewa, karena selama ini aku telah berjuang untuk mengejar IPK yang tinggi. Tapi, mungkin cara belajarku yang kurang teratur sehingga membuat IPK-ku seperti itu. Semoga semester ini IPK-ku meningkat.

2.      Fungsi direktif atau instrumental atau retorikal

Perhatian!
Bagi para pengguna sepeda motor, harap menggunakan helm Standar Nasional Indonesia (SNI) untuk mengurangi risiko kecelakaan.

3.      Fungsi fatik atau interpersonal atau interaksional

Yohanes  : Hy Bang!
Eduward : Hy Nes.
Yohanes  : Apa kabar Bang? Lama ngga bertemu.
Eduward : Puji Tuhan, baik-baik aja Nes. Abang selama ini ke luar kota.
                  Gimana denganmu?
Yohanes  : Baik-baik juga Bang. Hari Minggu setelah Misa kemana Bang?
Eduward : Di rumah aja, Nes.
Yohanes  : Kalo gitu, main ke asramaku nanti Bang. Kami ada acara bakar-bakar
                  jagung.
Eduward : Oke, Nes. Nanti Abang ke asrama.
Yohanes  : Thanks Bang. Sampai jumpa.
Eduward : Sampai jumpa, Nes.

4.      Fungsi referensial, representasional, kognitif, denotatif, atau informatif

Untuk Mahasiswa PPGT semester VI.
Setiap hari Sabtu pukul 08.00, kita mengadakan gotong royong untuk membersihkan lingkungan asrama. Terima kasih


5.      Fungsi metalingual atau metalinguistik

Bunyi vokal adalah bunyi bahasa yang arus udaranya tidak mengalami halangan. Jenis vokal ditentukan oleh tiga faktor yaitu tinggi rendahnya posisi lidah, bagian lidah yang dinaikkan, dan bentuk bibir pada pembentukan vokal tersebut.

6.      Fungsi imajinatif

Ayah

Di mana … akan kucari
Aku menangis, seorang diri
Hatiku, slalu ingin bertemu
Untukmu, aku bernyanyi

Untuk ayah tercinta
Aku ingin bernyanyi
Walau air mata di pipiku
Ayah dengarkanlah
Aku ingin berjumpa
Walau hanya dalam mimpi

Lihatlah .. hari berganti
Namun tiada seindah dulu
Datanglah, aku ingin bertemu

Denganmu, aku bernyanyi

Rabu, 01 Januari 2014

RPP 2013 KELAS IV Tematik Subtema 2 Pembelajaran ke-6

RENCANA PELAKSANAAN PEMBELAJARAN
(RPP)

Satuan Pendidikan      : Sekolah Dasar Katolik Wudi
Kelas                           : IV
Tema 2                        : Selalu Berhemat Energi
Subtema 2                   : Pemanfaatan Energi
Pertemuan                   : Ke-6
Alokasi Waktu            : 1 Hari

    A.            KOMPETENSI INTI
1.      Menerima dan menjalankan ajaran agama yang dianutnya.
2.      Memiliki perilaku jujur, disiplin, tanggung jawab, santun, peduli, dan percaya diri dalam berinteraksi dengan keluarga, teman dan guru.
3.      Memahami pengetahuan faktual dengan cara mengamati (mendengar dan membaca) dan menanya berdasarkan rasa ingin tahu tentang dirinya, makhluk ciptaan Tuhan dan kegiatannya.
4.      Menyajikan karya yang estetis dalam gerakan yang mencerminkan anak sehat, dan dalam tindakan yang mencerminkan perilaku anak beriman dan berakhlak mulia.

     B.            KOMPETENSI DASAR
            IPA
1.1  Bertambah keimanannya dengan menyadari hubungan keteraturan dan kompleksitas alam dan jagad raya terhadap kebesaran Tuhan yang menciptakannya, serta mewujudkannya dalam pengamalan ajaran agama yang dianutnya
      2.2 Menghargai kerja individu dan kelompok dalam aktivitas sehari-hari           sebagai wujud implementasi melaksanakan penelaahan fenomena alam      secara mandiri maupun berkelompok
3.4  Membedakan berbagai bentuk energi melalui pengamatan dan mendeskripsikan pemanfaatannya dalam kehidupan sehari-hari
4.6  Menyajikan laporan tentang sumber daya alam dan pemanfaatannya oleh masyarakat

            IPS
1.1  Menerima karunia Tuhan YME yang telah menciptakan manusia dan lingkungannya
2.3  Menunjukkan perilaku santun, toleran dan peduli dalam melakukan interaksi sosial dengan lingkungan dan teman sebaya
3.5  Memahami manusia dalam dinamika interaksi dengan lingkungan alam, sosial, budaya, dan ekonomi
4.5  Menceritakan manusia dalam dinamika interaksi dengan lingkungan alam, sosial, budaya, dan ekonomi

    C.            INDIKATOR
IPA
Membedakan sifat perpindahan panas

IPS
Menjelaskan pengalaman bekerja dengan teman

    D.            TUJUAN
1.      Setelah melakukan percobaan, siswa mampu membedakan sifat perpindahan panas (konveksi, konduksi dan radiasi) dengan benar.
2.      Setelah melakukan kegiatan bekerja sama dalam melakukan percobaan, siswa menuliskan pengalamannya dan hal-hal yang telah dipelajari dari kegiatan tersebut dengan detail dan benar.



     E.            MATERI AJAR
IPA
Konduksi, Konveksi, dan Radiasi

IPS
Interaksi Sosial

     F.            METODE PEMBELAJARAN
Penugasan, Tanya Jawab, Diskusi Dan Ceramah

    G.            KEGIATAN PEMBELAJARAN
   H.        Ayo Belajar
ü  Kegiatan Pembuka (5 menit)
1.      Guru mengkondisikan kelas agar siswa siap belajar.
2.      Untuk mengawali pembelajaran guru dan siswa berdoa.
3.      Guru mengecek kehadiran siswa kehadiran siswa.
4.      Guru melakukan apersepsi dengan melakukan tanya jawab.
5.      Guru menyampaikan tujuan pembelajaran

ü  Kegiatan Inti (20 menit)
Observing
1.      Siswa mengamati gambar dan berdiskusi tentang konduksi, konveksi, dan radiasi.
Questioning
2.      Tanya jawab tentang konduksi, konveksi, dan radiasi.
3.      Siswa dibagi menjadi beberapa kelompok
4.      Setiap kelompok diberi LDS oleh guru
Eksperimenting
5.      Siswa melakukan percobaan tentang konduksi, konveksi, dan radiasi.
Networking
6.      Siswa membuat kesimpulan dari hasil percobaan.
7.      Siswa membuat refleksi sikap saat melakukan percobaan.
Associating
8.      Perwakilan kelompok mempresentasikan didepan kelas hasil percobaannya
9.      Siswa menceritakan pengalaman dalam berkerja sama saat melakukan percobaan.
10.  Guru merefleksi dan memberikan pemantapan materi pembelajaran
Questioning
11.  Tanya jawab tentang materi yang belum dipahami

ü  Kegiatan Penutup (5 menit)
1.      Dengan bimbingan guru, siswa menyimpulkan materi pembelajaran
2.      Siswa mengerjakan evaluasi
3.      Guru memberikan pesan moral kepada siswa
4.      Guru dengan siswa berdoa untuk menutup pembelajaran.

       I.            ALAT DAN SUMBER BELAJAR
Alat dan Bahan           :
v  Besi, kayu, plastik, spirtus, dan lilin
Sumber Belajar            :
v  Kurikulum 2013
v  Buku Tematik Selalu Berhemat Energi

      J.            PENILAIAN PROSES DAN HASIL BELAJAR
1.      Prosedur penilaian
a.   Penilaian Proses
      Menggunakan format pengamatan dilakukan dalam kegiatan pembelajaran sejak dari kegiatan awal sampai dengan kegiatan akhir
b.   Penilain Hasil Belajar
      Menggunakan insrumen penilaian hasil belajar dengan tes
2.      Instrumen penilaian
a.       Penilain proses
·         Kinerja dalam menyelesaikan tugas kelompok (KI.2)
·         Kinerja dalam menyelesaikan tugas presentasi (KI.4)
b.      Penilaian hasil balajar
·         Esai
Guru Kelas IV


Yohanes Sangkang





















Lampiran

Penilaian
1.      Evaluasi dinilai dengan angka
2.      Daftar Periksa IPA
Kriteria
Sudah
Belum
Siswa dapat membuat kesimpulan tentang radiasi dengan benar


Siswa dapat membuat kesimpulan tentang konduksi dengan benar


Siswa dapat membuat kesimpulan tentang konveksi dengan benar



3.      Daftar Periksa IPS
Kriteria
Sudah
Belum
Dalam cerita sudah tertulis tentang refleksi sikapku saat melakukan percobaan


Dalam cerita sudah tertulis tentang hal-hal yang
perlu diperhatikan saat melakukan percobaan


Dalam cerita sudah tertulis 4 sikap yang perlu
ditunjukkan saat bekerjasama dengan temanku



Penilaian Proses
1.      Kinerja dalam menyelesaikan tugas kelompok/observasi  (K I 2)

No
Nama siswa
Aspek
Rasa ingin tahu
Teliti
Cermat
Menghargai kerja individu & kelompok
Tanggung Jawab
Hati-hati









































Keterangan kategori kinerja:
Sangat Kurang   : Jika tidak satupun deskriptor muncul
Kurang               : Jika satu & dua deskriptor muncul
Cukup                : Jika tiga deskriptor muncul
Baik                    : Jika empat & lima deskriptor muncul
Sangat Baik        : Jika enam deskriptor muncul

Deskriptor
a.       Rasa ingin tahu
1.      Berani bertanya pada guru
2.      Berani bertanya pada teman
3.      Berusaha mencari jawaban terhadap pertanyaan guru dan teman
b.      Teliti
1.      Teliti dalam melakukan pengamatan
2.      Teliti dalam mengelompokkan hasil pengamatannya
3.      Teliti dalam menuliskan hasil pengamatan
c.       Cermat
1.      Cermat dalam mencari data
2.      Cermat dalam mengelompokkan data
3.      Cermat dalam menuliskan hasil kerja kelompok
d.      Menghargai kerja individu & kelompok
1.      Saling bekerja sama
2.      Menyelesaikan masalah dengan diskusi
3.      Tidak sibuk sendiri
e.       Tanggung jawab
1.      Menyelesaikan tugas sesuai dengan ketentuan yang disepakati
2.      Setiap anggota menyelesaikan tugas masing-masing
3.      Mempersiapkan laporan tugas kelompok
f.       Hati-hati
1.      Hati-hati dalam melakukan percobaan
2.      Hati-hati menggunakan alat dan bahan dalam percobaan
3.      Tidak menimbulkan bahaya dalam percobaan
Persentasi pencapaian kategori =  x 100%

2.      Kinerja dalam menyelesaikan tugas presentasi

No.
Nama Peserta Didik
A s p e k
Mengolah
Menyajikan
Menyimpulkan
Menceritakan pengalaman kerja sama dalam melakukan percobaan





































Keterangan kategori kinerja:
Sangat Kurang   : Jika tidak satupun deskriptor muncul
Kurang               : Jika satu deskriptor yang muncul
Cukup                : Jika dua deskriptor muncul
Baik                    : Jika tiga deskriptor muncul
Sangat Baik        : Jika empat deskriptor muncul

Deskriptor :
  1. Mengolah :
1.      Mengolah data sesuai dengan yang diperoleh
2.      Mengolah data secara sistematis
3.      Mengolah data difokuskan pada materi
  1. Menyajikan :
1.      Menyajikan hasil sesuai dengan data yang diperoleh
2.      Menyajikan hasil diskusi secara runtut
3.      Menyajikan hasil difokuskan pada materi
  1. Menyimpulkan :
1.      Membuat kesimpulan berdasarkan data yang diperoleh
2.      Membuat kesimpulan berdasarkan fakta-fakta
3.      Membuat kesimpulan berupa konsep
  1. Menceritakan  pengalaman kerja sama dalam melakukan percobaan:
1.      Menuliskan pengalaman kerja sama dalam melakukan percobaan dengan detail dan benar

Persentasi pencapaian kategori =   x 100%





















LEMBAR DISKUSI SISWA (LDS)

Nama anggota Kelompok:
1.      ……………………..
2.      ……………………..
3.      ……………………..
4.      ……………………..

Petunjuk:
1.      Diskusikan tugas di bawah ini dengan kelompokmu
2.      Tuliskan hasil percobaan pada lembar yang sudah disediakan
Tugas
PERCOBAAN 1
Tujuan:
Menunjukkan bahwa gejala konveksi kalor dapat terjadi di dalam zat cair (air).
Alat dan Bahan:
1. Bejana/panci kaca 1 buah.
2. Serbuk gergaji secukupnya.
3. Tripot 1 buah.
4. Nyala api.
Cara Kerja:
1. Isilah bejana dengan air sampai hampir penuh.
2. Campurkan sedikit serbuk gergaji ke dalam bejana air dan aduklah sampai merata.
3. Panaskan bejana dan selanjutnya amati serbuk gergaji yang ada dalam air.
4. Apa yang terjadi? Tuliskan pada kolom berikut!


PERCOBAAN 2
Tujuan:
Menunjukkan perpindahan kalor secara konduksi
Alat:
 Sepotong besi, bunsen/lilin
Cara Kerja:
Panaskan sepotong besi dengan menggunakan bunsen atau dengan menggunakan api dari lilin. Tunggu beberapa saat.
Apa yang dirasakan oleh tangan kamu? Tuliskan jawabanmu

PERCOBAAN 3
Tujuan:

    Bahan:
1. Lilin
2. Mentega
3. Dua potong kertas kardus

 
Menyelidiki perpindahan kalor secara radiasi.
    Alat:
1. Stopwatch
2. Penggaris

            Cara Kerja:
1. Oleskan mentega secukupnya pada kedua kertas kardus.
2. Nyalakan lilin.
3. Letakan ke dua kertas di atas lilin pada jarak 1 cm.
4. Amati apa yang terjadi pada mentega.
5. Hitunglah waktu yang diperlukan mentega untuk meleleh.
6. Ulangi langkah ke tiga dengan mengubah jarak kertas (2 cm dan 3 cm).

Up Arrow Callout: Ceritakan pengalamanmu dalam berkerja sama saat melakukan percobaan.
 







Evaluasi

1.      Bedakan sifat perpindahan panas
2.      Tuliskan pengalamanmu ketika bekerja dengan teman


Jawaban

1.      Koveksi, Radiasi dan Konduksi
Ø  Konveksi, yaitu perpindahan kalor yang terjadi melalui aliran zat atau disertai perpindahan zat perantaranya.
Contoh:
a. Adanya gerakan naik turun kacang hijau dalam air mendidih.
b. Terjadinya angin darat dan angin laut.

Ø  Radiasi, yaitu perpindahan kalor tanpa zat perantara. Contoh terjadinya radiasi sebagai berikut:
            a. Tubuh terasa hangat jika berada di sekitar api unggun.
            b. Tangan yang didekatkan pada lampu menyala akan terasa hangat.
            c. Panas matahari dapat dirasakan di bumi.

Ø  Konduksi, yaitu perpindahan kalor melalui zat perantara, tetapi zat perantara tersebut tidak ikut berpindah (bergerak). Contoh konduksi sebagai berikut:
            a. Ujung logam yang terasa panas saat ujung lainnya dipanaskan.
            b. Telur akan cepat matang saat digoreng di atas wajan aluminium.
            c. Mentega akan meleleh saat diletakkan di atas wajan yang dipanaskan.


2.      (Jawabannya sesuai dengan pengalaman siswa)